tata cara umrah

Tata Cara Umrah

Posted on

Jika anda telah sampai di miqat (tempat memulai ihram), mandilah sebagaimana anda mandi junub (jika sanggup dikerjakan).

Setelah itu, pakailah minyak wangi yang paling baik (ke tubuh anda). Kemudian, pakailah kain ihram: (Bagi laki-laki) dua helai kain putih, keliru satunya digunakan sebagai sarung. Sedangkan bagi wanita, boleh pakai pakaian apa pun dengan syarat tidak memper-tontonkan hiasannya kepada orang lain atau menyerupai (pakaian) laki-laki.

Kemudian, berihramlah dengan mengucapkan (niat): “لَبَّيْكَ عُمْرَةً” (jika anda hendak melakukan umrah), sesudah itu lanjutkan dengan talbiah layaknya yang diajarkan (Nabi Shallallahu `alaihi wasallam) kepada kita:

(( لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ )).

“Kupenuhi panggilanMu ya Allah, kupenuhi panggilanMu, kupenuhi panggilanMu, tidak ada sekutu bagiMu, kupenuhi panggilanMu. Se-sungguhnya segala pujian, nikmat dan kerajaan hanya milikMu semata, tidak ada sekutu bagiMu”.

Berihram berasal dari miqat hukumnya adalah wajib. Jika anda hendak berhaji atau umrah, maka anda tidak boleh lewat miqat tanpa berihram.

Jika anda telah punya niat melakukan ibadah haji atau umrah (berihram), maka ketahuilah bahwa anda dilarang melakukan perbuatan-perbuatan tersebut ini:
Memotong rambut/ bulu berasal dari seluruh anggota tubuh, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta`ala:

وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ

“Dan janganlah anda mencukur kepalamu sebelum (binatang) korban sampai di daerah penyembelihannya”. (QS. Al Baqarah: 196)

Menggunakan minyak wangi di badan, pakaian dan makanan, berdasarkan hadits yang mengisahkan tentang seorang yang terjatuh berasal dari ontanya (pada saat menunaikan ibadah haji) lantas meninggal dunia dikarenakan diinjak oleh ontanya itu.Kisah tersebut selengkapnya adalah sebagai berikut: “Ketika seorang yang wukuf di Arafah terjatuh berasal dari ontanya, sesudah itu meninggal dikarenakan diinjak oleh ontanya tersebut, Rasulullah Shallallahu `alaihi wasallam bersabda: “Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara, sesudah itu kafanilah dia dengan dua helai kain ihramnya, jangan kalian memberi tambahan minyak wangi kepadanya dan jangan menutupi kepalanya, dikarenakan sesungguhnya Allah bakal membangkitkannya terhadap hari kiamat di dalam situasi bertalbiah (ihram)”. (Muttafaqun `alaihi).

Seorang yang berihram tidak boleh mengenakan pakaian yang telah dicelup dengan za`faran dan wars (jenis tumbuhan yang berbau harum).

Bersetubuh. Ini adalah larangan yang paling besar (berat), dikarenakan bakal mengakibatkan kerusakan haji, kalau dijalankan sebelum tahallul awal, dan orang yang melakukannya diwajibkan menyempurnakan (meneruskan) ibadah haji tersebut, mengulangi haji kembali th. berikutnya dan juga diwajibkan menyembelih unta.

Orang yang tengah berihram terhitung tidak boleh melangsungkan pernikahan atau menikahkan (orang lain), berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu `alaihi wasallam:

(( لاَ يَنْكِحُ الْمُحْرِمُ وَلاَ يُنْكِحُ وَلاَ يَخْطُبُ )).

“Seorang yang tengah berihram tidak boleh menikah, menikahkan dan meminang”. (HR. Muslim: no. 1409).

Khusus bagi laki-laki, tidak boleh kenakan pakaian yang berjahit. Yaitu pakaian yang dijahit menutupi badan, layaknya baju, atau menutupi {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} anggota badan, layaknya kaos dan celana dalam. Demikian pula, tidak boleh menutupi kepalanya dengan suatu hal yang menempel, layaknya sorban, topi dan sebagainya.
Seorang yang tengah berihram, baik laki-laki maupun perempuan, tidak boleh membunuh binatang buruan darat (yang liar), atau menopang orang lain berburu dan mengusik hewan tersebut berasal dari tempatnya.
Khusus bagi wanita yang berihram, tidak boleh pakai niqab (penutup wajah), yakni menutup wajahnya dengan kain yang terbuka terhadap anggota matanya. Dan tidak dibolehkan pula mengenakan kaos (sarung) tangan yang meliputi kedua tangan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu `alaihi wasallam:

(( لاَ تَنْتَقِبُ الْمَرْأَةُ الْمُحْرِمَةُ، وَلاَ تَلْبَسُ الْقُفَّازَيْنِ )).

“Seorang wanita yang tengah ihram tidak boleh kenakan niqab (penutup wajah) dan sarung tangan”. (HR. Bukhary: no. 1838).

Tetapi, ia boleh menutup wajahnya kalau ada laki-laki ajnabi (bukan mahramnya), sebagaimana dikatakan oleh `Aisyah radhiyallahu `anha: “Dahulu (pada era Nabi), kalau sekelompok orang yang berkenderaan lewat kami, tengah terhadap saat itu kami dengan Rasulullah Shallallahu `alaihi wasallam, kalau mereka berada sejajar dengan kami, seseorang yang ihram di pada kami menurunkan jilbab-nya berasal dari atas kepala untuk menutupi wajahnya. Dan kalau mereka telah berlalu, kami membukanya kembali. HR. Abu Daud: no. 1562, Ibnu Majah: no. 2926 dan Ahmad: no. 22894.

Kemudian memperbanyak talbiyah sampai tiba di kota Mekkah dan memulai thawaf di Ka`bah.

Jika anda telah tiba di kota Mekkah, thawaf-lah di Ka`bah sebanyak tujuh putaran, bermula dan berakhir di Hajarul Aswad. Kemudian direkomendasi shalat dua raka`at di belakang Maqam Ibrahim, baik berasal dari jarak yang dekat –jika mampu- ataupun jauh.

Jika anda telah selesai shalat dua raka`at, pergilah menuju bukit Shafa dan lakukanlah sa`i pada Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali, dengan niat sa`i untuk umrah, dimulai berasal dari Shafa dan berakhir di Marwah. Dari Shafa ke Marwah dihitung satu putaran, demikianlah selanjutnya sampai berakhir di Marwah.

Jika anda telah menyempurnakan sa`i, cukur-lah dengan rata seluruh rambut kepala anda. Dengan demikian, bermakna selesailah telah alur ibadah umrah anda, dan anda boleh membiarkan pakaian ihram dan juga kenakan pakaian (pakaian biasa).

Jika anda mengidamkan mengerjakan haji saja, maka ucapkanlah kala anda ihram berasal dari miqat: “Labbaika hajjan”. Kemudian perbanyaklah membaca talbiyah sampai melempar Jumrah `Aqabah (pada hari Nahar). Jika anda telah sampai di Baitullah (Ka`bah), thawaflah tujuh putaran sebagai thawaf Qudum. Dan setelah anda melakukan sa`i pada Shafa dan Marwah, maka sa`i tersebut telah cukup (dan berfaedah sebagai) sa`i untuk haji, dan janganlah anda mencukur rambut; dikarenakan anda senantiasa di dalam situasi ihram sampai anda bertahallul terhadap hari `Id (`Idul Adha).

Artikel terkait:

Dan kalau anda melakukan haji Qiran (menggabungkan haji dan umrah), maka ucapkanlah kala anda berihram di miqat: “Labbaika `umratan wahajjan”. Kemudian perbanyak-lah membaca talbiyah sampai anda melontar Jumrah `Aqabah. Dan anda melakukan peker-jaan (manasik) layaknya yang dijalankan oleh orang yang melakukan haji Ifrad (mengerjakan haji saja, sebagaimana terhadap poin enam di atas).